Di balik hijab, kain pembatas rapat antara ikhwan dan akhwat tadi..
terdengar suara lantunan kata-kata, entah suara siapa, aku pun tak begitu memperhatikan
hanya saja, ada sepenggal kalimat yang cukup indah untuk ditulis
tak hanya ditulis, ya bukan sekedar itu, tapi ini harus diaplikasikan
"Seharusnya kita punya semangat yang jauh lebih banyak daripada yang akan kita sebar"
sekilas, terdengar biasa
namun setelah dipahami lebih jauh.. ada makna terkandung di dalamnya
seandainya, kita akan menyebar 100 semangat di Bulan Ramadhan
maka kita sendiri harus memiliki (misal) 300 semangat dalam diri ini, lebih dari yang akan kita sebar
sangat tak lucu jika yang akan kita sebar 100 semangat,
tapi kita sendiri hanya memiliki 50 bahkan hanya 20 semangat
apakah akan sampai tujuan awal dr "sebar semangat" kita?
mari luruskan niat dan lekas bergerak !
Jika cobaan sepanjang sungai,
seharusnya kesabaran seluas samudera. Jika harapan seluas hamparan bumi ini,
seharusnya ikhtiar itu seluas langit yang membentang. Jika pengorbanan seluas
bumi, seharusnya keikhlasan seluas jagad raya. agar tak kecewa ketika keinginan
tak sampai, agar tak sedih ketika harapan tak tercapai, karena harus kita yakini
bahwa hanya rencana Allah lah yang terindah..
Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit.
Lalu menebarnya di bumi.
Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta.
Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah
-Salim A. Fillah
dari sini, di tempat kalian masing-masing, semoga tali ukhuwah ini tetap komitmen menyatukan diri kami yang tak dekat, tak lupa mengeratkan hati kami yang terlampau jauh letaknya oleh jarak.
-Masih bertahan di sebuah meja depan lift, sore hari
sebuah proses..
terkadang gagal, sekalipun berhasil, tak selamanya sempurna..
ingin rasanya menciptakan suatu "karya"
seperti mimpi yang amat sulit digapai, namun tetap ingin meraihnya
ya, memang tak mudah, tapi nikmati saja prosesnya :')
tak punya bakat ? Jelas aku memang tak punya bakat untuk membuat "karya" itu, tapi siapa yang tahu kehendak Allah jika kita mau berusaha #keepHusnudzon
toh, Berlian yang indah juga harus dimulai dari Batu Bara bukan?
ya batu bara, pandangan pertama melihatnya pun sulit dipercaya bahwa ia adalah awal mula dari sebuah karya keindahan :)
Oh iya aku lupa, kau memang sudah terlahir dari orang
tua muslim bukan? Sudahkah kau bersyukur dg keberuntunganmu itu? Terlahir
sebagai seorang muslim, di saat yang lain, mereka yang diluar lingkaran kita,
harus berusaha dahulu membuka hati mereka dan mendapatkan hidayah dari Sang
Pencipta. Terkadang mereka pun tak menyadari, bahwa Allah sangat dekat, bahwa
Hidayah Allah selalu ada untuk mereka yang mau membuka hatinya..
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu diriwayatkan bahwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali
dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya sebagai
Yahudi, Nasrani atau Majusi.." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bukankah suatu yang indah dalam hati ini ketika
mendengar seorang non muslim bersyahadat dan menyatakan diri sebagai mualaf?
Haru senang rasanya, bertambah lagi saudara semuslim kita. Entah apa yang ia
rasakan, apa yang ia temukan sehingga tergerak hatinya untuk menjadi seorang
muslim. Yang pasti, itulah hidayah Allah, itulah kekuasaan Allah yang tak ada
tandingannya..
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi
petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada
orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau
menerima petunjuk.” (QS Al Qasas : 56).
Aku pun tak bisa membayangkan, seandainya dahulu aku
terlahir bukan dari keluarga muslim, jadi apakah aku ini? Apakah aku bisa dekat
dengan Islam? Bukan, bukan dekat yang seharusnya aku tanyakan
terlebih dahulu, tetapi apakah aku akan mengenal Islam?
Aku muslim, ya aku memang muslim, Alhamdulillah. Tapi
apakah aku memang benar-benar sudah mengenal Islam itu sendiri? Mengenal, dekat
dan mencintai Islam? Bagaimana hubunganku –yang mengaku muslim ini- dengan
Allah, Tuhan semesta alam?
Pertanyaan itupun terus mengalir, mengalir
mengintrospeksi diri, terus mengalir mencari jawabannya…
Gelap..
gelap semendung diluar sana
diiringi tetes demi tetes air yang jatuh ke dasar bumi
membasahi seluruh lapisan bumi yang dijajaki
juga tak lupa menghapus setiap jejak langkah yang dilewati
Ada banyak wajah disini, ada banyak karakter disini. Banyak menyimpan cerita di setiap jejak mereka, entah akan membawa ke arah mana, mungkinkah ke Danau UI ataupun Masjid UI atau bahkan tidak keduanya